Kode Etik Profesi

Nama             : Seftian Andri Asandi

NPM               : 22409517

Mata Kuliah   : Etika Profesi

KODE ETIK PROFESI

Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang

disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan

atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang

sistematis.

Kode  etik  ;  yaitu  norma  atau  azas  yang  diterima  oleh  suatu  kelompok  tertentu  sebagai

landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)

Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan

tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.

Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan untuk

mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-

ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Salah

satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode etik

pertama untuk profesi dokter.

Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU KEDOKTERAN.

Beliau  hidup  dalam  abad  ke-5  SM.  Menurut  ahli-ahli  sejarah  belum  tentu  sumpah  ini

merupakan  buah  pena  Hipokrates  sendiri,  tetapi  setidaknya  berasal  dari  kalangan  murid-

muridnya dan meneruskan semangat profesional yang diwariskan oleh dokter Yunani ini.

Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang sudah-sudah panjang, namun belum pernah

dalam sejarah kode etik menjadi fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar

begitu luas seperti sekarang ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana etis yang

khusus, salah satu buktinya adalah peranan dan dampak kode-kode etik ini.

Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY (MASYARAKAT MORAL) yang memiliki

cita-cita  dan nilai-nilai  bersama.  Kode etik  profesi dapat  menjadi  penyeimbang  segi segi

negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral

bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat.

Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat penerapan

pemikiran  etis  atas  suatu  wilayah  tertentu,  yaitu  profesi.  Tetapi  setelah  kode  etik  ada,

pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya

selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan semestinya, salah

satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi sendiri. Kode etik tidak

akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah atau instansi-instansi

lain;  karena  tidak  akan  dijiwai  oleh  cita-cita  dan  nilai-nilai  yang  hidup  dalam  kalangan

profesi itu sendiri.

Instansi  dari  luar  bisa  menganjurkan  membuat  kode  etik  dan  barang  kali  dapat  juga

membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh

profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus

menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari

profesi.

Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk

mewujudkan  nilai-nilai  moral  yang  dianggapnya  hakiki.  Hal  ini  tidak  akan  pernah  bisa

dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita yang diterima

oleh profesi itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan

untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang

harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya di

awasi  terus  menerus.  Pada  umumnya  kode  etik  akan  mengandung  sanksi-sanksi  yang

dikenakan pada pelanggar kode etik.

SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK :

a. Sanksi moral

b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi

Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan

atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya

perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional,

seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu

merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu

berasal dari niat profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi

untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek seharihari

control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat dalam anggota-

anggota profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan teman sejawat yang

melakukan  pelanggaran.  Tetapi  dengan  perilaku  semacam  itu  solidaritas  antar  kolega

ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian maka kode etik profesi itu tidak

tercapai,   karena   tujuan   yang   sebenarnya   adalah   menempatkan   etika   profesi   di   atas

pertimbangan-pertimbangan   lain.  Lebih  lanjut  masing-masing  pelaksana  profesi  harus

memahami betul tujuan kode etik profesi baru kemudian dapat melaksanakannya.

Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan

dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi.

Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang

lebih  sempurna  walaupun  sebenarnya  norma-norma  tersebut  sudah  tersirat  dalam  etika

profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis

secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar

dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang

profesional

TUJUAN KODE ETIK PROFESI :

1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

4. Untuk meningkatkan mutu profesi.

5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.

7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :

1.   Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang

digariskan.

2.   Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.

3.   Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam

keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang.

Referensi : Buku Ajar Etika Profesi oleh R.Rizal Isnanto, ST, MM, MT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s